Monday, 21 October 2013

Molimo : 5 M Sang Penghancur Moral Manusia


Orang jawa tak asing lagi mendengar kata molimo (lima M) yang merupakan adab yang juga ajaran Islam. Molimo merupakan adab dalam budaya jawa agar manusia hidup menjauhinya, karena melakukan molimo akan menderita baik lahir maupun batin, dunia akherat, materil dan immateril.

Sebaliknya jika menghindari molimo ini maka hidup menjadi sehat, keluarga harmonis, fisik akan menjadi sehat jauh dari serangan berbagai jenis penyakit dan insya Allah hidupnya bahagia dan syurga Allah akan bisa diraih.

1. MAIN :
Main disini maksudnya adalah perjudian, sabung ayam, berjudi, bertaruh judi bola juga termasuk jenis perjudian

2. MADON
Madon adalah pelacuran, prostitusi, maksiat dan perselingkuhan 

3. MALING
Maling adalah mencuri, suap, korupsi dan mengambil yang bukan haknya

4. MADAT
Madat adalah menggunakan candu, zat adiktif atau narkoba seperti ganja, putau, sabu-sabu, extacy dan sejenisnya

5. MINUM
Minum maksudnya minuman keras, minuman yang memabukan, minum alkohol, dll. Minum ini yang paling berbahaya, dan banyak kasus setelah minum mereka lalu berzina dan akhirnya membunuh.

Molimo tanpa dijelaskan dengan panjang lebar kita sudah tau betapa bahayanya, kita banyak melihat di masyarakat melakukan judi, terbiasa dengan maksiat dan selingkuh, hingga mencuri dan minum minuman keras hingga mabuk tidak akan bahagia hidupnya, mereka menjadi musuh masyarakat dan tertipu dengan jerat-jerat syaithon.

Tak hanya Molimo, syaithon menjerat manusia melalui 7 tahapan:
1. Tahapan kekufuran, bila dia gagal
2. Tahapan bid’ah, bila dia gagal
3. Tahapan dosa-dosa besar, bila dia gagal
4. Tahapan dosa-dosa kecil, bila dia gagal
5. Tahapan perbuatan mubah yang melalaikan ibadah, bila dia gagal
6. Tahapan perbuatan fidhilah, bila dia gagal
7. Tahapan penindasan dan penyiksaan dari musuh-musuh islam, dimana seorang mukmin pun atau para nabi tidak akan selamat darinya

Puluhan miliar rupiah dana hibah mengalir ke keluarga Atut


Puluhan miliar rupiah dalam bentuk dana hibah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Banten tahun anggaran 2012 mengalir ke organisasi, lembaga dan yayasan yang dipimpin oleh adik, anak, dan menantu gubernur banten, Ratu Atut Chosiyah.

Dari data yang dihimpun merdeka.com, anak sulung Atut, Andika Hazrumi, berperanan di tiga organisasi, yakni di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Banten, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Provinsi Banten, dan Karang Taruna Provinsi Banten. Dana hibah yang diterima organisasi dengan sasaran pemuda karya ini seluruhnya Rp 10 miliar.

Istri Andika, Adde Rosi Khoirunnisa, mengetuai tiga organisasi, yakni Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Provinsi Banten, Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Banten, dan P2TP2A Provinsi Banten dengan total kucuran dana hibah Rp 5,6 miliar.

Adik Kandung Ratu Atut Chosiyah, Tatu Chasanah mengetuai tiga organisasi kemasyarakatan, yaitu Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Banten, Forum Kader Posyandu Provinsi Banten, dan Gerakan Nasional kesejahteraan Sosial (GNKS) Provinsi Banten. Total dana hibah yang diterima tiga organisasi itu tidak kurang dari Rp 7,5 miliar.

Suami Atut, Hikmat Tomet, menerima kucuran Rp 750 juta untuk menggerakkan ekonomi kreatif melalui wadah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Banten.

Dana hibah dari APBD Provinsi Banten juga diberikan kepada yayasan dan organisasi profesi yang ada hubungan keluarga dengan Ratu Atut. Majelis Taklim Al-Chosiyah dan Yayasan Darussolichan mendapatkan kucuran hibah sebesar Rp 6,6 miliar. Sedangkan Yayasan Amal Sejahtera menerima dana hibah Rp 900 juta.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Banten yang di ketuai oleh Adik kandung Ratu Atut, Tubagus Chaeri Wardhana menerima hibah hingga Rp 9 miliar.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Banten Muhadi mengatakan, mengenai pembagian dana hibah, pihaknya sudah melakukan sesuai dengan aturan. "Jadi mengenai hibah dan bansos boleh diberikan kepada siapa saja, dan itu diberikan telah mengacu ke Permendagri," ujarnya, beberapa waktu lalu.

(mdk/bal)

Sunday, 20 October 2013

Kehormatan Perempuan


Seorang wanita berjalan, berlenggak lenggok bak macan kelaparan. Gayanya santai, bajunya modis, dan menarik mata. Di tangannya, ia membawa beberapa bungkus rokok untuk dijajakan. Sekelompok lelaki yang ditawari mulai merayu-rayu. Sesekali ia pun memegang-megang tangan sang wanita tanpa izin. Yang dipegang tak memberikan perlawanan berarti. Entah karena tidak enak ataupun tidak keberatan diperlakukan demikian.

Di cerita lainnya, seorang wanita tengah berboncengan dengan lelaki. Keduanya masih SMA karena baju seragamnya yang abu, masih dipakai. Roknya yang longgar, terangkat lebih tinggi dari lututnya. Sesekali si lelaki memegangi paha si wanita. Yang dipegang pun tak protes, tak minta turun di tengah jalan saat itu juga, dan tak marah sama sekali. Malah sama-sama tertawa ditemani laju motor kecepatan sedang.

Kali ini saya tak ingin berbicara tentang lelaki. Dari kedua contoh di atas, yang saya pikirkan adalah apa tidak risih perempuan itu diperlakukan demikian? Apa tidak kesal dipegang-pegang demikian? Padahal itu lelaki pun bukan orang yang halal untuknya, bukan siapa-siapa baginya. Ini baru dua contoh dari sekian banyak ‘keanehan’ yang saya temui di lapangan. Belum lagi masalah hamil di luar nikah pada remaja-remaja SMA, kasus pelacuran anak usia di bawah umur, pemerkosaan ayah pada anak perempuan kandungnya, kekerasan seksual wanita di tempat pekerjaannya, dan sebagainya. Mengerikan.

Saya semakin heran, apa yang telah terjadi pada perempuan-perempuan saat ini? Apakah ini masalah sensitivitas perempuan yang tidak ada lagi? Orang tua yang tidak memberikan pembelajaran pada anak perempuannya? Terjadinya pergeseran persepsi sosial mengenai pergaulan lawan jenis? Lemahnya daya sosial perempuan? Atau apa?

Pada akhirnya saya masih bertanya-tanya dan semakin ingin lebih banyak memahami makhluk bernama perempuan ini. Pada kondisi demikian, saya merasa bersyukur dibesarkan oleh keluarga yang sangat disiplin menjaga pergaulan saya, memberikan pandangan mengenai harga diri dan kehormatan wanita yang perlu dijunjung tinggi, menjadi wanita yang tidak boleh mudah direndahkan lelaki.

Bagi saya, kemuliaan wanita akan tetap ada selama ia menjaga kehormatannya. Kadang, saya berpikir mungkin lebih baik menjadi perempuan galak atau ditakuti lelaki,

daripada harus memunculkan fitnah akibat senyuman kita…
daripada harus menjadi penyebab penyakit hati mereka akibat terlalu lembutnya suara kita…
daripada harus menjadi penyebab futurnya mereka karena kecerobohan dan kelalaian dalam menjaga izzah-iffah kita…
daripada harus menjadi penyebab panjang angan dan harapan karena sangat baiknya sikap kita padanya…

Fatin Rohmah Nur Wahidah

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More